Parenting, sinergi kekompakan sekolah-orang tua kunci keberhasilan ilmu

#REPORTASE PARENTING

Parenting sinergi kekompakan sekolah orang tua kunci keberhasilan ilmu

Masih Ada Alasan?

|Oleh: Vera umi hafidz

Sabtu 27 Juli 2019, sekolah Khoiru ummah Serpong mengadakan seminar parenting. Di gedung DRN Puspitek Serpong Tangerang Selatan bersama Ustadzh Hj Emi Khairani founder STP Khoiru ummah.

Hadir sebagai pembawa acara ustadz Jadi Prastyo. Acara dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang di bawa Anada Atqi dan Syamil. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh ustadzah Dona.

Sesi pertama Ummu menyampaikan materi tentang Impian KU. Diawali dengan menyapa ayah bunda. “Bagaimana kabarnya ayah bunda?”. “Alhamdulillah luar bias tetap semangat Allah Akbar” jawab ayah bunda, namun masih lemes. Ummu menyampaikan bahwa mengeluarkan suara itu hal penting.
Mampu mengeluarkan suara adalah indikator bahwa seseorang itu percaya diri. Maka di KU, disetiap kegiatan nya terus melakukannya. baik saat menghafal maupun disetiap mata pelajaran lainnya. Terlebih bagi seorang pemimpin, kemampuan itu sangat dibutuhkan.

Secara alami atau thobii suatu bangsa berjaya atau tidaknya sangat di tentukan oleh siapa pemimpinnya. Jika pemimpinnya memiliki visi dan misi yang jelas maka negara itu akan berjaya. Sebaliknya bila pemimpinnya hanya memikirkan diri dan kelompoknya semata bisa dipastikannya negara itu lemah dan terjajah.

Maka Perkara pemimpin ini adalah perkara yang penting. Islam pernah berjaya, umat Islam hidup mulia dan sejahtera. Namun faktanya saat ini keadaannya terhina. Maka tugas kita adalah mengembalikan kembali kejayaan tersebut dengan menyiapkan generasi pemimpin. General Khoiru ummah. Maka dari itu impian ku adalah melahirkan generasi pemimpin yang pemikiran, perbuatan dan cara memimpinnya berbasis Wahyu yaitu Al-Qur’an dan as-sunah.

Mudah melahirkan generasi pemimpin? Fakta nya saat ini generasi kita adalah generasi pembebek, hedonis, munafik, kecanduan gadget, narkoba dan fotografi. Hal ini bersifat masal jumlahnya banyak. Ada dengan sendirinya? Tidak, tapi ada yang mengaruskan, ada yang memfasilitasi salah satunya adalah pemimpinnya. Maka saat ini kita harus berjuang mewujudkan generasi yang benar, sehingga masa depan kita akan cerah. Berusaha untuk berubah menjadi lebih baik lagi termasuk dalam hal mendidik. Jadi masihkah kita ada alasan? So sibuk, ga sempat nemenin Murojaah, ga sempat tanda tangan KHS dan lain sebagainya.

Sesi ke dua, Ummu menyampaikan tema posisi anak dan kita sebagai orang tua.

Ummu mengawali dengan menanyakan pada peserta satu pertanyaan. Saat mendidik anak atau menyekolahkan anak sebenarnya anda sedang menyiapkan siapa? Benarkah hanya menyiapkan anak saja? Beberapa peserta menjawab untuk menyiapkan anak supaya menjadi anak yang Sholeh dan sebagainya. Kemudian Ummu menyampaikan surat Al-kahfi ayat 46.
Anak itu adalah anugrah, pemberi kebahagiaan. Maka sampai tua nanti pun harus menjadi pemberi kebahagiaan. Saat sudah tua renta, orang tua itu butuh apa? Harta, tahta, tumah mewah? Tidak. Yang mereka butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang. Maka penting banget untuk menjadikan anak kita menjadi qurotu a’yun supaya kelak nanti kita bahagia. Tidak hanya di dunia namun juga diakhirat.

Jadi sejatinya saat mendidik anak pada hakikatnya tengah menyiapkan kebahagiaan kita nanti. Dan diuncak kehidupan kita yaitu idi surga. Di bumi hanya sebentar dan hanya tempat safar.

Anak bisa menjadi investasi akhirat. Karena bisa Mendoakan. Maka kita harus mengeluarkan investasi untuk pendidikan anak. Pendidikan itu mahal, namun sebenarnya bisa negeri ini membiayainya. Hanya dari keuntungan batu bara saja. Biaya pendidikan bisa diatasi.

Investasi saat membangun rumah. Bermodalkan uang. Begitu juga menyiapkan anak harus berani berinvestasi. Dan yakin anak kita bisa menghafal Alquran. Karena Allah sudah memberikan kesempurnaan pada anak. Jangan katakan susah saat menghafal, tapi berikan motivasi supaya muncul kemauannya.

Allah meminta berkorban mal sebelum jiwa. Maka kalau mal saja ga bisa maka jiwapun tidak akan mau dikorbankan Maka kita harus niat. Niat menjadikan anak penghafal Alquran. Ilmuan, kaliber dunia.

Sesi 3. Kebersamaan, Kekompakan orang tua dan guru, hadirkan keberkahan ilmu.

Tidak ada anak yang belum baligh berfikir baligh. Maka dalam mendidik harus sesuai dengan tahapan perkembangan. Orang tua dan guru harus kompak. Kekompakan orang tua kunci keberhasilan anak.
Ibu pengasuh sekaligus pendidik
Ayah kepala sekolah, sekaligus Wakasek bagian Sapras. Orang tua adalah guru utama dan pertama sedangkan
Guru disekolah adalah guru bantu.

Tugas pendidik: menyembuhkan kesalahan dan menuntun pada jalan baik. Jangan baper sama anak yang belum balig karena akal mereka belum sempurna. Harus diiklaskan saat mereka berbuat salah.

Orang tua dan guru bukan hakim tapi pendidik. Apa bedanya? Hakim itu menelanjangi kesalahan seseorang dan menghukum. Sedangkan Pendidik menutupi kesalahan anak dan bukan menghukum tapi memberikan amal shaleh sehingga Allah SWT ridho. Bisa Mengerjakan amal shaleh dengan memberikan hukuman yang mendidik salah satunya dengan bershodaqoh.

Demikian pemaparan dari Ummu Khair. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Ustdz Mukhlis, dilanjutkan dengan foto bersama dan saling bersalaman.

Semoga bermanfaat

Wallahu alam bishoab

slot gacor

slot gacor hari ini

bolavitaslot

slot gacor

bolavita

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

s1288poker

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

slot qris

mbo128

rtp live

mbo128

sv388

mbo128

piala dunia 2026

agens128

sv388

mbo128

mbo128 login

live casino

mbo128

slot qris

situs slot qris

bolavita

bolavita

sbobet

sv388

daftar sbobet