*MENDIDIK ANAK SEMURNI NIAT*
Oleh : Ustazah Yanti Tanjung
#DuniaParenting– Niat adalah point penting dalam mendidik anak, karena setiap amal dipertaruhkan pada niatnya, jika tidak amal itu akan sia-sia. Karena itulah amal seorang hamba diterima disisi Allah swt salah satu syaratnya adalah niat ikhlash karena Allah swt disamiping amalnya benar sesuai dengan syariah Islam. Maka niat mendidik anak jangan sekedar coba-coba.
Niat secara bahasa artinya adalah al qashdu (maksud) dan al iraadah (keinginan) atau dengan kata lain qashdul quluub wa iraadatuhu (maksud dan keinginan hati). Tempat niat adalah di hati seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ
“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di menjelaskan, “Niat adalah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahala-Nya.”
(Bahjah Quluubil Abraar wa Qurratu ‘Uyuunil Akhyaar Syarah Jawaami’ul Akhbar hal. 5)
Mendidik anak karena ia bagian dari ibadah kepada Allah swt maka perlu diiring niat yang lurus dan senantiasa memurnikannya disetiap episode kebersamaan ayah bunda dengan ananda. Ayah bunda yang tidak niat mendidik anak maka jangan pernah diharapkan terjun langsung untuk mendidik anak-anaknya dan akan melalui hari-hari bersama ananda tanpa ibadah dan tanpa target yang jelas sehingga tidak nyata capaian-capaian yang akan diraih.
Ayah bunda yang salah niat mendidik anak maka akan sia-sia amalnya bahkan bisa jadi hanya menabnung dosa-dosa mendidik,na’udzubillahi min dzalik.
Apa pentingnya niat bagi pendidikan anak-anak kita?
Pertama, untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lain.Misalkan apakah mendidik anak tentang adab hukumya wajib atau tidak,apakah mengajarkan Alquran fardhu atau tidak, mendidik anak shalat fardhu adalah wajib, apakah ini perkara-perkara yang sunnah ataukah yang mubah, masing-masing memiliki nilai ibadah yang berbeda.
Kedua,untuk membedakan apakah ketika kita mendidik anak bernilai ibadah atau tidak. Misalkan ada 2 orang ibu yang sama-sama mengajarkan karakter baik pada anak, yang satu mengajarkan kebaikan umumnya pandangan tentang karakter semisal berlaku sopan kepada guru, berkata yang lembut sama orang tua agar anaknya dipandang baik dihadapan guru dan orang lain.
Sedangkan ibu yang satunya lagi mengajarkan pribadi-pribadi kesalehan kepada anak semata-mata karena ibadah bukan kebiasaan guru atau orang tua pada umumnya.
Ketiga, untuk membedakan tujuan kita dalam mendidik,apakah kita mendidik anak semata-mata karena meraih ridha Allah semata-mata ataukah ridha manusia dan pujian manusia bahwa kita ingin dikatakan hebat dalam mendidik dan anak kita sukses karena pola didik kita memang wow. Kalau karena manusia bisa jadi seorang ibu tiri akan memberikan penampakan yang terbaik mendidik anak di hadapan suaminya, namun ketika di belakang suaminya sang anak babak belur.
Maka mari kita murnikan niat kita dalam mendidik, tidak menampakkan hal-hal yang baik pada manusia demi mengharap pujian padahal sebenarnya aslinya di rumah perkara yang buruk dari pola didik kita jauh lebih banyak. Tapi tetap memiliki niat yang ikhlas seikhlas2nya kalaupun kita ingin berbagi cerita tentang pendidikan anak-anak kepada orang lain.
Sungguh menakjubkan kisah ibu para ulama yang tidak pernah terpikirkan untuk membuat anak-anaknya terkenal walau akhirnya terkenal. Tapi para bunda ulama ini senantiasa mendidik anak-anak mereka karena berharap Allah ridha dan menanamkan rasa cinta mereka kepada Allah dan Rasulnya pun kepada anak-anak mereka ditanaman kelurusan dan kemurnian niat menuntut ilmu.
Bukan karena ingin dianggap ahli hadist atau ahli Quran sehingga berharap pujian. Maka murninya keikhlasan itu mengalir dalam darah dan terhunjam dalam daging para ulama ini walau berpayah-payah dalam ilmu niatnya semata-mata untuk ibadah.
Kita dapatilah mereka hamba-hamba yang ikhlas dalam lmu sehingga karya-karya mereka hingga hari ini berlimpah barakah dari Allah swt dijadikan referensi bagi umat seluruh dunia.
Sebutlah itu Imam Malik dengan kita Muwaththo’ nya menjadi kitab rujukan di masanya sampai-sampai Imam Syafi’i sang murid hanya menghafalnya selama 9 hari di usia 13 tahun. Padahal Imam Malik menulis kitab tersebut selama 10 tahun ada juga yang menyebutnya 40 th.\
Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521)
Oleh karena itu, apa alasan kita sebagai orang tua niatnya semata-mata karena Allah swt :
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188)
Berdasarkan itulah mari kita luruskan niat kita dalam mendidik anak, dalam ilmu yang selalu kita tuntut dan kita sampaikan kembali kepada ananda tanpa mempertimbangkan lagi ridha manusia.
Dan sekali-kali jangan pernah salah niat karena itu sangat membahayakan,tidak hanya bahaya yang kita dapatkan di dunia tersebab kita sibuk dengan pujian manusia tapi lebih dari itu bahaya di akhirat Allah akan memberikan kita siksa api neraka. Kenapa ?Karena Allah tidak suka kita beramal karena selainNya.
Anas bin Malik ra. berkata,
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ يُبَاهِي بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ يُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ يَصْرِفُ أَعْيُنَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Hakim dalam Mustadroknya)
Dan amal mendidik kita kepada anak itu sebesar apa yang kita niatkan dengan ikhlas sebagaimana amal yang lainnya seperti halnya kita dalam menuntut ilmu kita dapatkan sesuai kadar keikhlasan :
Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi juga mengatakan:
وانما ينال المرء العلم على قدر اخلاصه
“Seorang itu mendapatkan jatah ilmu, sebanyak kadar ikhlasnya.” (Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)
Dan lebih dari semua itu ayah bunda yang senantiasa memurnikan keikhlasanyna dalam mendidik anak, Allah akan memuliakan mereka begitupun akan memulian anak-anak mereka terus naik ke derajat yang lebih tinggi karena ikhlasnya mereka dan karena semata-mata berharap pahala di sisi Allah swt.
Wallaahu a’lam bishshowab
_____________
#DuniaParenting
#SahabatKeluargaMuslim
#ProdukKeluargaMuslim
#ArtikelParenting
#KeluargaSamawa

